AFA

Au Pair, FSJ, und Ausbildung aus Indonesien

Au Pair, FSJ, Ausbildung aus Indonesien

  • AFA butuh dukungan kalian!!

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

  • Mari Support AFA

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

  • Ayo Dukung AFA

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

  • AYO DUKUNG AFA

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

  • Ayo Dukung AFA

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

Posts mit dem Label au pair werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label au pair werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Freitag, 19. Oktober 2018

Au Pair Junge und Gast Familie

 Cara mendapatkan Gast Familie als Au Pair Junge 


Displaying IMG_20160727_183640.jpg
Hallo Pejuang Au Pair terutama untuk kalian para pejuang Au Pair Junge, pasti ada beberapa dari kalian yang tertarik dan berminat sebagai Au Pair Junge namun sering kali beberapa dari Gastfamilie lebih condong akan Au Pair Mädchen. Jangan pernah menyerah dan terus mencoba, pasti disetiap kegagalan akan ada hasil yang sangat luar biasa. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri, Nama saya Herdi Harja Kusumah. Saya dulu adalah salah satu pejuang Au Pair Junge, Bundesfreiwilligedienst dan sekarang mengikuti Program Ausbildung dalam bidang Medizinische Fachangestellte, bermodalkan bahasa jerman level A1 ketika mendarat di Jerman.

Baiklah, saya akan membahas bagaimana saya bisa mendapatkan Gastfamilie dengan bermodalkan Internet dan banyak membaca informasi baik secara online maupun secara cetak. Berawal pada tahun 2016 tepatnya bulan Februari dimana saya mencoba mendaftarkan akun saya di www.aupairworld.net, namun selalu di tolak. Alhasil saya mencoba mendaftarkan di website lain seperti www.aupair.com, hanya dalam jangka waktu 1 bulan saya mendapatkan pesan dari salah satu GF (Gast Familie) yang dimana GF tersebut tertarik dan membutuhkan Au Pair Junge.

Dalam pesannya,  GF mengundang saya untuk mengenal keluarga dan anak-anaknya, dan kebetulan anak GF tersebut Zwillinge (Kembar) ein Mädchen und ein Junge. Pada saat pengenalan melalui Skype, GF menanyakan pengalaman dan apa motivasi saya sebagai Au Pair Junge. Setelah wawancara dengan GF dan anak-anaknya, 1 minggu kemudian mereka mengirimkan sebuah Vertrag (Kontrak) semuanya berjalan dengan lancar, dan pada tanggal 25 April 2016 saya medapatkan appointment di Kedutaan Besar Republik Federal Jerman. Pada saat Interview semua berjalan dengan lancar dan harus menunggu sampai visa nasional tersebut di setujui.

Butuh waktu hampir 2 bulan visa Au Pair disetujui oleh Ausländerbehörde. Visa disetujui pada tanggal 15 Juni 2016, meskipun di dalam Vertrag yang di mana tertera pada tanggal 1 Juni 2016 saya harus sudah bekerja. Namun Gastfamilie membooking tiket pesawat pada tanggal 29 Juni 2016 dan pada tanggal 30 Juni saya memdarat di Berlin, beliau dan anak-anaknya sudah menunggu di Tegel Airport Berlin untuk menyambut kedatangan salah satu calon keluarganya (Saya sebagai Au Pair).

Jika kalian membutuhkan beberapa Informasi tentang Au Pair, Freiwilliges Soziales Jahr oder Bundesfreiwilligedienst, und Ausbildung. Feel free to ask, here is my email herditerrade@gmail.com

Oleh: Herdi Harja Kusumah
Share:

Dienstag, 9. Oktober 2018

Pengalamanku Menjadi Au Pair



Sebelumnya aku tidak pernah ada rencana untuk menjadi seorang Au-Pair. Bahkan aku tidak tahu sama sekali apa itu program Au-Pair. Jadi awal mulanya aku mengajukan Visa Studienvorbereitung di Kedutaan Jerman di Jakarta, namun hingga 8 bulan lamanya aku tidak dapat kabar terbaru dari kedutaan dan setiap kali aku pertanyakan tetang Visaku mereka hanya menjawab masih dalam proses. Sampai pada akhirnya datanglah surat penolakan yang mengatakan bahwa Motivation Letterku kurang menunjukkan tujuanku, dan hal itu sempat membuat aku down. Aku bercerita ke salah satu temanku yang sudah berada di Jerman. Dan akhirnya dari dialah aku mendengar program Au-Pair. Dari situ aku mulai mencari di Internet tentang program Au-Pair, membaca pengalaman-pengalaman serta berbagai blog yang ada. Setelah aku mendapat gambaran yang jelas mengenai Au-Pair, maka aku putuskan untuk menjalani program tersebut.

Sedikit gambaran mengenai program Au-Pair. Berdasarkan pengalamanku adalah sebuah program pertukaran budaya dimana seorang Au-Pair belajar bahasa dan budaya dari negara dimana kita menjalani program tersebut dan dapat tinggal di rumah salah satu keluarga, sebagai gantinya kita membantu keluarga tersebut dalam menjalani aktivitas mereka. Seperti menjaga anak-anak mereka, membereskan atau merapikan kamar dan tempat bermain anak-anak, dan tentunya sebagai seseorang yang ikut tinggal di dalam keluarga tersebut wajib ikut menjaga kebersihan rumah tersebut. Karena dari situ anak-anak mereka juga bisa belajar sebuah tanggung jawab. Dan tentunya kita juga mendapat uang saku perbulannya.

Singkat cerita, setelah aku mengetahui apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Au-Pair di Jerman. Mulailah aku mencari keluarga, pada awalnya aku menemukan sebuah keluarga di Berlin namun seiring waktu ada beberapa hal dari calon Gastfamilie ku yang membuat mereka membatalkan niat mereka memiliki seorang Au-Pair. Akhirnya aku mencari keluarga Au-Pair baru dan aku menemukannya melalui Grup Au-Pair di Facebook. Mereka adalah sebuah keluarga muda dengan 3 anak di Lüneburg.

Akhirnya aku mengajukan permohonan Visa Au-Pair setelah semua dokument dari Gastfamilieku datang dan dokument lain juga sudah terpenuhi. Setelah menunggu sekitar 1 bulan lamanya, aku mendapat kabar bahwa Visaku sudah jadi. Dan tepat pada 7 Maret 2017 aku terbang ke Jerman. Yang bisa aku katakan pada diriku sendiri adalah akhirnya aku memulai awal karirku di Jerman. Dan yang aku ingin katakan pada kalian yang membaca tulisan ini adalah studi atau bekerja di sebuah perusahaan di Jerman bukanlah satu-satunya cara memulai karir di Jerman, tetapi Au-Pair merupakan salah satu pilihan memulai karir di Jerman. Karena dari Au-Pair bisa aku katakan membantu meminimalisir Culture Shock.

Jadi singkat cerita lagi, hari pertama bertemu mereka aku sangat senang dan merasa sangat disambut dengan keluarga mereka. Setelah 2 hari berlau mulailah Gastmutter ku menjelaskan apa saja yang bisa aku bantu sehari-hari di rumah tersebut. Namun semakin lama ada beberapa hal yang aku rasa seharusnya tidak menjadi bagian dari tugasku. Aku sempat bertanya kepada beberapa teman-teman Au-Pair lainnya, beberapa dari mereka mengatakan bahwa apa yang dilakukan Gastfamilieku melebihi batas kontrak kerja tapi ada beberapa dari mereka yang mengatakan bahwa aku hanya Culture Shock. Beruntungnya aku mempunyai seorang pacar di Jerman yang bisa membantu menengahi masalah ini, dia juga yang berusaha menjelaskan dan menanyakan kepada Gastmutterku. Dan beruntungnya juga Gastfamilieku orang yang mau mendengar kritik dan mereka tetap tidak berubah memperlakukan aku seperti bagian dari keluarga. Menurutku Gastmutterku sudah seperti kakak buatku dan sampai sekarang setelah kontrak Au-Pairku selesai aku masih berhubungan baik bahkan kita saling bercerita dari tentang anak-anak hingga masalah pribadi.

Itulah singkat cerita tentang pengalamanku menjadi seorang au pair, aku juga mau berbagi beberap tips berdasarkan pengalamanku :

  1. Baca sebanyak-banyaknya mengenai Au-Pair, cari tahu dari berbagai blog dan juga melalui grup AFA (Au-pair, FSJ, Ausbildung),
  2. Jangan terburu-buru mengambil keputusan,
  3. Baca dan pahami kontrak kerja, jika belum begitu paham bahasa Jerman bisa tanya kepada guru kursus kalian atau orang yang kalian kenal yang bisa berbahasa Jerman,
  4. Saat video call atau Skype dengan calon Gastfamilie jangan lupa untuk menanyakan sejelas-jelasnya apa yang menjadi tanggung jawab & hak kalian selama menjadi Au-Pair di keluarga tersebut,
  5. Siapkan mental dan tekad yang kuat, karena itulah yang bisa membuat kamu bertahan. Karena menjadi Au-Pair bukan hanya bersenang-senang,
  6. Jika ada masalah dalam keluarga berusaha dibicarakan, aku tahu sulit untuk memulai karena kita takut untuk di putus kontrak secara sepihak. Tapi lebih baik dibicarakan karena Gastfamilie kita juga tidak tahu dan merasa baik-baik saja jika kita tidak bilang. Kalau tidak berani melakukan sendiri, berusaha cari seseorang untuk menengahi misal ; teman atau kenalan kalian.


Oh ya semua yang aku tulis disini berdasarkan pengalamanku menjadi Au-pair, jadi tidak bisa disamakan dengan pengalaman orang lain. Semoga dari pengalamanku ini bisa membantu kalian yang akan atau sedang menjalani Au-Pair.

Penulis: Januarty Eka Pratiwi
Editor: Girindra W.P Denker
Share:

Sonntag, 7. Oktober 2018

Ein Jahr, das Dein ganzes Leben verändern kann

,,Es sind die Begegnungen mit Menschen, die das Leben lebenswert machen.“
Guy de Maupassant

Hamburg, 2.10.2018

Das Leben ist voller Überraschungen. Ich kann es bis heute kaum fassen, dass mein Traum, nach Deutschland zu kommen, in Erfüllung gegangen ist. Ein Jahr als ein Au-pair Mädchen ging sehr schnell vorbei und ich musste ein weiteres Programm finden, weil ich noch länger in Deutschland bleiben möchte, um meine Deutschkenntnisse zu verbessern.

Ich habe von einem Blog eines ehemaligen Au-pairs erfahren (www.denkspa.de/), dass wir Ausländer ein Aufenthalt in Deutschland als Freiwilliger – oder Bundesfreiwilliger Soziales Jahr leisten dürfen. Bei dem Programm handelt es sich um eine Sozial- bzw. Freiwilligenarbeit, die man mindestens für 6 bis zu 18 Monaten machen kann. Das Freiwillig Soziales Jahr (FSJ) wird in verschiedenen Einsatzstellen angeboten, wie im gesundheitlichen Bereich sowie in Krankenhäusern oder Einrichtungen für Menschen mit Behinderung, Kunst, Bildung sowie in Kindergärten oder Grundschulen und sogar im ökologischen Bereich.

Die Teilnehmer sind meistens die jungen Menschen, die sich noch überlegen, was sie nach der Schule machen wollen. Das Programm ist als ein Überbrückungsjahr gedacht, damit die Jugendlichen sich orientieren können und einen Blick bekommen, welche Herausforderungen sie im echten Berufsleben erwarten. Außerdem kann man sich durch dieses Programm sozial engagieren und es bringt auf jeden Fall viele Vorteile mit sich.

Ich habe mich entschieden, mein FSJ in einer Wohngruppe bei Leben mit Behinderung Hamburg zu machen. Am Anfang war ich zu skeptisch, als dass ich die ganze Verantwortungen übernehmen könnte. Aber ein Jahr verging und ich bin ein ganz anderer Mensch geworden. Meine Aufgaben an sich sind ziemlich vielfältig. Von den haushälterischen Tätigkeit bis zur Begleitung bei ärztlichen Terminen. Es wird oft verlangt, selbständig und fleißig zu arbeiten. Da es auch um andere Menschen geht, die unsere Hilfe benötigen. Egal in welchen Situation, muss man immer hilfsbereit sein.

Es gibt zwar Tage, wo ich mich sehr selbstbewusst fühle. Aber es gibt auch Tage, wo sich alles sehr überfordert anfühlt. Es ist trotzdem ganz normal. Mit Menschen zu arbeiten ist keine einfache Arbeit aber solange man mit Freude und dem ganzen Herzen arbeitet, geht alles einfacher. Von meinem FSJ habe ich viel gelernt und mitgenommen, dass Menschen miteinander stärker sind. Wir sind von Natur aus ein Homosapiens, der ohne mithilfe anderer Menschen nicht leben kann. Und durch eine gemeinsame Arbeit sind wir unzerbrechlich.

Auf der Arbeit habe ich Menschen mit verschiedenen Eigenschaften und Behinderungen gesehen. Und ich bin froh, dass ich sie kennenlernen dürfte. Es ist nicht immer leicht, mit ihnen zurechtzukommen oder damit umzugehen. Sie sind jedoch einzigartig und sie schenken uns auf ihre Art und Weise große Liebe, die wir manchmal nicht sofort bemerken.

Dank dieser Erfahrung sehe ich sie nicht mehr als Menschen mit Behinderungen, sondern als normale Menschen und nicht deren leiden. Ich sehe nur Hasi, Oliver, Cristian, oder Bärbel. Sie sind genauso wie wir. Sie weinen, sie lachen, sie tanzen und sie lieben. Das ist eine wertvolle Erfahrung, die man nirgendwo kaufen kann. Wie ein Spruch aus Indonesien ,,Tak kenal maka tak sayang“. Mann kann erst dann jemanden lieben, wenn man ihn schon kennengelernt hat. Denn jemand fremdes kann man nur vom außeren beurteilen aber wie Tief das Herz einer Person ist, kann man nur im Laufe der Zeit erfahren.

Das FSJ hat nicht nur mein ganzes Jahr verändert sondern auch mein ganzes Leben. Ich bin nicht mehr in einer Welt wo ich nur schwarz und weiß gesehen habe. Mein Leben ist tatsächlich viel Bunter geworden. Es ist die Funktion einer Inklusion, dass man letztendlich kein Vergleich mehr macht und die Vielfalt in der Gesellschaft respektiert. Das wäre ein Anfang, die ganze Welt zu einem besseren Ort für jeden Menschen machen zu können. Egal welche Farbe, Nationalität und Behinderung man hat oder welche Sprache man spricht. Respekt sollte meiner Meinung nach eine Eigenschaft sein, die man überall und jederzeit haben muss. Und ich bin froh, dass ich ein Jahr für was positives verbracht habe.

Autorin  : Lita Asmara
Bearbeiterin: Girindra W.P Denker

Share:

Donnerstag, 4. Oktober 2018

Keluhan Calon AFA: Belajar Bahasa Jerman Secara Otodidak


“Aku gak punya uang untuk belajar bahasa jerman, gimana ya kak? Apa aku bisa belajar sendiri tapi aku tuh bolot banget otaknya kalo buat belajar?”

Ini salah satu keluhan yang paling sering terdengar dari calon AFA. Masalah ini sebenernya sudah banyak dibahas di beberapa blog tapi mungkin masih belum lengkap penjelasannya. Kali ini kita akan membahas belajar bahasa Jerman secara otodidak tanpa dasar pengetahuan sama sekali.

Sesungguhnya semua bahasa itu bisa dipelajari secara otodidak asal ada kemauan, rajin dan pantang menyerah. Di zaman yang sudah amat sangat modern ini kalian bisa dengan mudah belajar bahasa negara manapun dengan aplikasi di smartphone. Ada beberapa aplikasi yang bisa kalian gunakan, dan untuk yang sama sekali tidak tahu dasar bahasa Jerman bisa menggunakan Aplikasi Busuu.

Dalam aplikasi Busuu ini kalian akan belajar dari hal yang sangat awal seperti cara menyapa, cara memperkenalkan diri dan hal dasar lainnya. Di aplikasi ini juga banyak penjelasan yang diberikan tentang negara Jerman. Sayangnya grammatik yang diberikan hanya untuk level dasar saja, jika kalian ingin memperdalam grammatik kalian harus berbayar. Jika kalian sudah punya dasar bahasa jerman, kalian bisa melatih kemampuan dengan menggunakan aplikasi Duolingo.

Mungkin beberapa dari kalian merasa tidak lengkap belajar tanpa buku. Kalian bisa beli buku pengantar bahasa jerman di toko buku atau kalian bisa langsung membeli buku studio d A1.

Sayangnya buku studio d A1 sudah susah untuk didapatkan karena lembaga kursus sudah menggunakan buku Netzwerk. Tapi jangan khawatir, kalian bisa mencari buku bekas dan biasanya ada yang jual di beberapa e-commers atau bisa juga mendownload softcopy buku studio d a1. Pertajam pendengaran kalian dengan nonton youtube. Serial dari Nico’s Weg, Deutsch Plus, Jojo sucht das Glück dan masih banyak lagi bisa menjadi referensi kalian untuk belajar. Jangan lewatkan juga siaran belajar dari DW.com yang bisa kalian manfaatkan sebagai pengantar tidur. Setelah kalian terbiasa dengan bahasa jerman, sekarang saatnya kalian latihan berbicara! Tujuan belajar bahasa Jerman adalah agar kalian bisa berbicara bahasa Jerman. Tapi bagaimana bisa kita bicara bahasa Jerman sedangkan kita hanya belajar sendiri di rumah? Tenang, sekarang ada aplikasi Tandem.

Aplikasi ini diperuntukan bagi yang ingin belajar bahasa asing. Dengan aplikasi tersebut kalian bisa belajar langsung dari dengan native speakers. Kalian bisa chatting, telepon ataupun video call. Jadi apa kalian masih berpikir belajar bahasa itu harus keluar banyak uang? Ingatlah dimana kemauan disitu ada jalan. Jadi, kalau kalian hanya mengeluh tanpa berupaya untuk mencari jalan keluar, sama juga seperti menegakkan benang basah, hasilnya akan NOL. Jika yang lain bisa karena bersungguh-sungguh, begitu pun kalian, juga pasti bisa.

Tetap semangat!
Share:

Sonntag, 30. September 2018

AUPAIR Bukan Sekedar Menyukai Anak Kecil…

Mungkin banyak yang menanyakan alasan kalian untuk menjadi aupair, dan pada umumnya bahkan saya sendiri menjawab bahwa saya menyukai anak kecil. Ok, bisa jadi itu menjadi alasan pemanis dari tujuan saya yang sebenarnya hanya ingin belajar bahasa Jerman lebih mudah dan murah agar nantinya bisa melanjutkan studi di Jerman. Lalu, apakah dengan menyukai anak kecil saja cukup?

Tulisan ini dibuat, yaitu pada tanggal 26 September 2018, tepatnya saat saya sudah menjadi aupair selama 8 bulan 26 hari. Saya tinggal sebagai aupair-mädchen di sebuah kota kecil bernama Bretten yang terletak di Baden-Württemberg, Germany. Keluarga saya bukan asli orang Jerman, melainkan gastfater Belgium-Dutch dan gastmutter Austrian. Percampuran dua negara ini memberi banyak keuntungan terhadap saya selama tinggal dengan mereka. Salah satunya adalah kesempatan untuk ikut “pulang kampung” ke negara mereka masing-masing untuk mengunjungi keluarganya. Menjawab pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya, ternyata hanya dengan menyukai anak kecil saja tidak menjanjikan bahwa kerjaan yang saya hadapi terasa ringan dan bahagia. Karena pada dasarnya, aupair itu tinggal 24/7 selama setahun (sesuai kontrak masing-masing) di rumah yang sama dengan seluruh anggota keluarga. Ini berarti, kalian pun harus beradaptasi dengan hostparents kalian, kakek dan neneknya, om dan tantenya, dan lingkungan yang baru.

Saya di sini mencoba untuk lebih menekankan pada keharusan kalian untuk beradaptasi dengan para orang tua dari anak-anak yang kalian akan urus nantinya. Mengapa? Karena ternyata, membaca dan mendengar curhatan-curhatan yang datang dari teman aupair lainnya, masalah yang mereka alami berasal dari hubungan aupair itu dengan hostparentsnya. Menghabiskan waktu dengan anak saja sih bagaimana pinter-pinternya kalian untuk cari kegiatan yang sesuai dengan mood kalian saat itu. Sebagai contoh, kalau kalian sedang banyak tenaga dan mood kalian bagus, banyak permainan yang mereka sudah punya di rumah dan bisa kalian mainkan bersama. Tapi kalau mood hilang, saya biasa memberi ide kepada anak-anak yang saya urus untuk bermain “salon-salonan”. Jadi saya hanya duduk dan membiarkan rambut saya dikepang oleh mereka.

Dibalik waktu yang kita habiskan bersama anak, hal yang akan sering kalian jumpai adalah berkomunikasi dengan hostparents kalian. Komunikasi ini sangat penting! Kesalahpahaman dari dua belah pihak yang biasanya menimbulkan masalah dalam menjalani hari sebagai aupair, dan percaya deh, ini akan sangat berat nantinya. Oleh karena itu, saat kalian masih dalam proses interview atau skype dengan calon hostparents, tanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang lifestyle mereka dan tugas apa yang akan kalian kerjakan sedetail mungkin. Termasuk juga jika kalian mempunyai hobi, apakah hobi itu bisa mereka fasilitasi atau mereka kompromikasikan. Karena kegiatan yang kalian sukai inilah yang nantinya menjadi sarana kalian untuk me-refresh diri kalian apabila sedang jenuh menjadi aupair.

Hal lain yang sering terjadi saat permasalahan muncul, khususnya bagi orang Indonesia adalah rasa “ga enakan” yang budaya kita miliki. Mungkin banyak anak aupair lainnya yang memberi saran untuk sabar, sabar, sabar dan akhirnya kalian tidak mengkomunikasikan ketidaknyamanan yang kalian rasakan karena “ga enak” dan memilih untuk sabar menjalaninya. Masalahnya apakah kalian harus dan bisa sabar selama 1 tahun? Saya sih tidak, satu tahun itu lama dan kalian tinggal 24 jam selama 7 hari!! Jadi apa solusinya? KOMUNIKASI! Bicarakan langsung dengan hostparents apabila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan menjadi aupair dalam kontrak yang kalian miliki dan sepakati. Pengalaman orang berbeda-beda, dan bagaimana toleransi kalian pribadi dalam menghadapi masalah juga berbeda dengan orang lain. Mungkin, banyak aupair lain yang masalahnya lebih besar dari kalian dan mereka berkata bahwa mereka hanya sabar dan bertahan atau malah mungkin ada yang berkata bahwa, “masalahmu mah ga seberapa”. Tapi saya hanya ingin memberi tau satu hal, hari-hari yang kalian jalani itu kalian sendiri yang merasakan, bukan orang lain. Setiap orang itu berbeda, dan tidak salah menurut saya menjadi orang yang dikatakan tidak sabar atau manja atau lainnya asalkan kalian bahagia!

So, selain rasa suka yang kalian miliki terhadap anak kecil untuk menjadi aupair yang bahagia, kalian juga harus mulai belajar untuk beradaptasi dengan budaya dari negara yang akan kalian datangi. Salah satunya adalah untuk menjadi pemberani dalam berkomunikasi. Sulit, tapi seiring waktu pasti jadi terbiasa. Ini kan point menjadi aupair, mengetahui dan mempelajari kultur lain selain Indonesia. SEMANGAT!

By: Intan Shabrina Eka Putri
Share:

Dienstag, 4. September 2018

Mencari Gastfamilie untuk Au-pair laki-laki

Halli hallo!

Nama saya Candra dan berasal dari Bogor. Dalam kesempatan kali ini saya mau berbagi cerita saya dalam mendapatkan Gastfamilie. Untuk para calon Aupair, khususnya para kaum lelaki sangat dimengerti kalau ada keluhan, mencari Gastfamilie susah sekali atau akunnya di Aupairworld dihapus. Saya mengalami semua itu pada tahun 2015 lalu.

Sebelumnya, saya mendaftarkan diri di Aupairwold ini karena tidak ada larangan untuk laki-laki jika mau mencari Gastfamilie di website ini, tetapi setelah dua kali membuat akun dan menunggu konfirmasi penerimaan akun untuk bisa mulai mencari keluarga ternyata akun saya selalu ditolak. Karena saya sangat jengkel dengan sifat mereka yang tidak transparan, maka akhirnya saya memutuskan untuk menjadi tidak jujur juga dengan membuat akun yang menerangkan kalau saya adalah female.

Setelah satu hari akhirnya saya mendapatkan konfirmasi kalau akun saya sudah bisa digunakan. Hiuuurayyy!!! Saya mulai upload foto-foto yang cocok untuk mencari keluarga dan mengirim personal message kepada para calon keluarga. Saran: karena pencarian saya ini diawali dengan ketidakjujuran terhadap websitenya, maka lebih baik jelaskan kepada para calon keluarga apa yang membuat kalian membuat female profile dengan lembut dan penuh motivasi!

Dari website Aupairworld saya akhirnya mendapatkan tiga calon Gastfamilie yang paling click dengan saya. Dalam jangka waktu satu bulan satu per satu dari para calon tersebut menunjukkan ketidakcocokkan mereka terhadap saya. Ketidakcocokkan ini bukan masalah gender, melainkan waktu kedatangan di Jerman dan keadaan saya dulu yang masih kuliah dan point lainnya yang penting untuk kedua pihak.

Teman saya dari Bremen akhirnya menyarankan sebuah website khusus Jerman: Finde Au Pair Deutschland

Dari website diatas saya mendapatkan Gastfamilie saya yang tinggal di Bremen. Dalam website tersebut ada lumayan banyak juga Aupair- Junge lainnya yang mencari Gastfamilie

Jadi silahkan dicoba ya! Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini dan salam semangat dari Jerman untuk kalian yang masih dalam tahap pencarian ! Jangan menyerah!

Displaying 20161014_162740.jpg


Jangan lupa baca: Köln Pass 

Written by : Candra Hasannudin
Share:

Sonntag, 2. September 2018

Info Lengkap Seputar Köln Pass dan Cara Mendapatkannya

Hallo teman teman AFA semua,

Seperti yang kita ketahui bahwa tinggal di Eropa bagi perantau sangatlah mahal, khususnya jika kita bekerja sebagai Au Pair. Hanya mengandalkan uang Taschengeld (uang saku) dari Gastfamilie tentunya tidak cukup jika kita memiliki keinginan juga untuk jalan jalan atau menghibur diri dengan pergi ke Museum, kebun binatang, perpustakaan, konser musik, dsb. Lalu kita terkadang berfikir ribuan kali karena uang yang akan dikeluarkan tidaklah sedikit.

Bagi kalian yang ingin tinggal atau yang sudah menetap di wilayah Köln, Nordrhein-Westfalen, ada kabar membahagiakan bahwa kalian bisa menikmati sarana hiburan yang saya sebutkan diatas dengan harga yang terjangkau apabila kalian memiliki Köln-Pass. Köln-Pass ini sangat bermanfaat sekali, saya akan jelaskan apa itu Köln-Pass, cara mendapatkannya dan keuntungan apa saja yang didapat jika kita memiliki Köln-Pass..

Köln-Pass

Köln-Pass adalah sebuah program pemerintah Köln untuk orang yang tinggal di Köln berupa kartu, yang mana dengan kartu tersebut banyak sekali diskon yang akan kita dapatkan. Köln pass ini terutama diperuntukkan bagi : orang yang tidak punya banyak uang, orang cacat, orang asing atau perantau yang datang ke Jerman, dan orang-orang yang membutuhkan.

Cara mendapatkannya

- Kalian mengambil Formulir (Antrag Köln-Pass) di Bürgeramt.
- Mengisi formulir tersebut:
* Name (isi dengan nama belakang)
* Vorname (isi dengan nama depan)
* Geboren (Tanggal, bulan dan tahun kelahiran)
* Strasse, Hausnummer (alamat rumah di Köln) PLZ,
* Ort (Kode Pos dan Kota)
* Für meine Wohnung bezahle ich – (strip) € Miete und Nebenkosten
* Berechtigtenkreis (untuk kalian Au Pair dan FSJ) maka silang bagian “Geringverdiener
* E-mail
* No Handphone
* Ort, Datum (Kota dan Tanggal)
* Unterschrift (tanda tangan)

- Foto Copy Paspor
- Foto Copy Visa
- Foto Copy Vertrag Au Pair
- Serahkan semua Dokumen tersebut ke alamat Wiener Platz 2a di lantai 3 dan sesuaikan dengan nama belakang kalian dengan ruangan yang akan kalian serahkan dokumennya, semisal nama Robby Wiliam maka kalian ke ruangan W di ruang 302.

Manfaat dari Köln-Pass Monatsticket


Seperti yang kalian ketahui transportasi di Jerman sangatlah mahal baik menggunakan kereta atau Bus terlebih dengan Taksi. Tapi paling populer bagi masyarakat Jerman ialah Kereta, Yakni U-Bahn dan S-Bahn. Monatsticket ini berlaku hingga 1 bulan dan lebih hemat namun Monatsticket juga tidak semurah yang kita bayangkan, berikut daftar harga Monatsticket untuk wilayah Köln:


Untuk diskon Deutschkurs di VHS


Kalian ingin kursus Super intensiv di VHS tapi mikir biayanya karena kursus Superntensiv ini di VHS Köln harganya bisa mencapai 488€. Tapi dengan Köln-Pass, kita akan mendapatkan diskon 45% dari Harga Kursus, kalian hanya foto copy dan menunjukann kartu Köln-Pass saat mendaftar dan membayar biayanya.

Diskon pergi ke Kebun Binatang (Zoo)


Diskon 50 % dengan Köln-Pass

Untuk mengunjungi dan meminjam buku di Stadtbibliothek (perpustakaan kota) 

1 Tahun = 13 €
6 bulan = 7 €

Untuk mendapatkan diskon masuk stadion (menonton sepak bola)

Diskon Untuk mengunjungi Museum

Diskon untuk menonton Opera 

Diskon untuk menonton Teater

Dan banyak lagi keuntungan yang bisa kita dapatkan. Untuk info lebih lanjut, dapat diakses di  website resminya: Köln Pass

 

 

C:\Users\Ananda\Documents\My Received Files\20180902_201147.jpg
Add caption

 

Antrag Bagian Depan

 

 

 

C:\Users\Ananda\Documents\My Received Files\20180902_201215.jpg 

 

Antrag bagian belakang

 

C:\Users\Ananda\Documents\My Received Files\CYMERA_20180902_215926.jpg 

Köln pass bagian depan

 

C:\Users\Ananda\Documents\My Received Files\20180902_201328.jpg 

Köln Pass bagian belakang

  Semoga info ini bermanfaat. 

Penulis: Ananda Robiah Adawiyah

Editor: Girindra W. P. Denker

Share:

Samstag, 25. August 2018

Mau Bertanya Seputar Au Pair? Sebaiknya Kepada Siapa?

Beruntungnya kita saat ini, informasi mengenai langkah-langkah untuk ke Jerman sudah tersedia. Bayangkan beberapa tahun lalu sebelum adanya AFA, kita harus rajin google, rajin mencari tahu, kadang bertanya kepada orang yang sudah tinggal di Jerman namun tidak digubris. Meskipun begitu, pejuang AFA yang saat ini sudah tinggal di Jerman melewati itu semua dan merasakan betapa beratnya perjuangan sebelum menginjak Jerman (dan bahkan sesudah sampai di Jerman).

Jika saat ini kalian masih di Indonesia dan ingin menjadi au pair ke Jerman, bergabung di komunitas AFA (Au Pair, FSJ dan Ausbildung aus Indonesien) di facebook adalah langkah awal yang tepat. Di sana, kita bisa telusuri postingan terpilih dan komentar-komentar yang mungkin bisa bermanfaat.

Cara Bergabung di Grup Facebook AFA: Klik di Sini

Jika kalian sudah mentok dan tak mendapat jawaban yang diinginkan atau pun sudah pasrah tidak tahu bagaimana solusinya, menghubungi salah satu pengurus AFA bisa menjadi alternatif pilihan.


Sebelum menghubungi pengurus AFA, pastikan:

- Kalian sudah google dan tak menemukan solusinya
- Kalian sudah scroll down postingan di grup AFA tapi tak ada postingan atau pun komentar yang relevan
- Pertanyaan yang kalian ajukan masuk akal.

Pengurus tidak akan menjawab pertanyaan semacam ini:
- Bertanya untuk mencarikan host family di Jerman
- Bertanya dengan pertanyaan yang bisa dicari sendiri dengan google, contohnya: apa itu au pair? bagaimana caranya menjadi au pair? Bagaimana syarat menjadi au pair? Bagaimana caranya mendapatkan host family? Apa saja yang ditanyakan saat wawancara dengan host family/kedubes?
- Apakah worth it berangkat ke Jerman melalui agen, kemudian minta rekomendasi agen yang terpercaya. Ingat, AFA buka agen dan tidak mendukung atau pun melarang kalian ikut agen untuk berangkat ke Jerman, melalui agen atau pun mandiri, 100% merupakan keputusan pribadi dan AFA tidak bertanggung jawab atas gagalnya program yang kalian ambil lewat agen atau pun mandiri. 

Untuk mengetahui semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, AFA sudah menyediakan kolom file yang bisa diakses di grup. Caranya: Gabung grup AFA, lalu temukan di sidebar tombol: FILE, kemudian klik. Di sana, akan ada banyak link yang bisa diakses untuk dibaca sendiri.

Nah, sekarang, siapa yang harus aku hubungi untuk pertanyaan yang sangat mendesak?

Gabriela Natasha Ginsky



Elya Ayunda

Dara Aulia Akbar

Mentari Ayu Budiarti

Jika kalian lebih nyaman konsultasi kepada laki-laki:

Ragil Andi Mahardika

Candra Hassanudin


Share:
Powered by Blogger.

Recent

Breaking

Categories

Pages

Theme Support