AFA

Au Pair, FSJ, und Ausbildung aus Indonesien

Au Pair, FSJ, Ausbildung aus Indonesien

  • AFA butuh dukungan kalian!!

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

  • Mari Support AFA

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

  • Ayo Dukung AFA

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

  • AYO DUKUNG AFA

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

  • Ayo Dukung AFA

    Ada banyak cara untuk support AFA: donasi 10 euro per tahun, menulis dan berbagi info serta pengalaman di portal ini, atau berkontribusi untuk proyek Buku AFA. Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk info selengkapnya

Posts mit dem Label pengalaman au pair werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label pengalaman au pair werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Samstag, 13. Oktober 2018

Asam manis di Jerman

Awal bulan February tiba di jerman dengan muka bahagia selama beberapa tahun ingin pergi ke negara ini dan akhirnya pada tanggal 7 February menginjakan kaki di Hannover. Saya berjumpa pertama kali dengan keluarga De Buhr. Awal nya saya di sambut dengan hangat dan di beri fasilitas yang cukup baik karna saya sudah bertekad dan kuat mental hadapi semua rintangan. Rudy(Papa saya) pernah bilang bahwa saya tidak akan bisa untuk merawat anak karna itu hal sulit apa lagi harus bisa mengerti anak tersebut berserta karakter nya. Jujur untuk program ini saya bertekad untuk dapat menyelesaikan sampai 1 tahun tapi alhasil saya tidak bisa menyanggupi nya karna apa yang saya hadapi ini cukup sulit. Banyak asam manis selama 6 bulan berkerja dengan keluarga ini. Jujur terlepas dari ini aku masih tergantung sama orang German yaitu Pacar ku sendiri. Dia selalu membantu ku dalam keadaan sulit, bisa disebut dia seperti hadiah untuk ku dan aku senang dapat mengenal nya. Selama ku kerja di Host Family, aku mendapat kan pelajaran yang tidak akan aku dapatkan di negara ku, aku juga di marahi jika tidak melakukan perkerjaan dengan perfect. Ada temen ku bilang bahwa tinggal di negara orang itu harus kuat mental. Mental batin juga fisik hehe. Aku mendapatkan reference keluarga ini yaitu dari teman ku sendiri orang Indonesian. Pada tanggal 30 July aku menyerahkan surat resign ku kepada host mom ku karna aku sudah tidak mau lagi bekerja dengan nya. Problem ku sangat banyak dengan keluarga ini. First Problem yang pertama itu fatal yaitu insurance card tidak di berikan kepada ku. Aku tidak ada insurance card selama 6 bulan dan itu sangat miris. Awal Februar aku sudah menanyakan soal ini kepada Host mom ku tapi sayang nya sampai aku mau resign tidak ada insurance card di tangan ku, second Problem hari free ku , emang kalo jadi aupair harus flexible tapi kadang kala dia sering memanfaatkan ku sehingga hari free ku itu harus bekerja. Problem ketiga yaitu Urlaub Tag, aku tidak bisa menggunakan urlaub tag ku dengan free karna aku harus menyesuaikan nya dengan schedule dia dan harus menjaga anaknya. Awalnya surat resign ku ini tidak di terima dengan baik oleh Host mom ku setelah aku pergi ke Anwalt akhirnya dia menerima surat resign ku. Di satu sisi positif aku sangat beruntung untuk bisa berada di Germany dan aku sangat senang bisa bersosialisasi dengan orang banyak. Sejujurnya hidup di negara orang tidak mudah dan sulit banyak hal yang harus di pelajari kadang kala tidak mengerti. Masalah terbesar adalah bahasa. Bahasa jerman itu susah dan banyak grammatik nya. Jadi butuh waktu lama untuk bisa lancar dan bicara bahasa jerman. Di satu sisi aku ada keinginan besar untuk masa depan ku di negara ini yaitu melanjutkan kuliah lagi disini dan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dengan kualitas hidup yang baik. Aku tahu dengan hal itu bisa merubah takdir ku. Sejak 5 tahun lalu aku ingin pergi ke negara ini dan akhir nya tercapai walaupun harus menunggu waktu lama dan sedih susah di kampung halaman tapi finally aku sudah berada disini. Kadang kala aku merasa tidak menerima perubahan secepat ini karna kultur yang berbeda dan bahasa yang berbeda juga pemikiran dan pemahaman yang berbeda. Tapi mau apalagi sudah jauh dari keluarga dan mengambil keputusan untuk masih masa depan semoga jalan yang ku ambil ini benar. Aku punya banyak impian disini semoga saja mimpi ku itu satu persatu dapat terwujud. Tidak di pungkri lagi susah nya dapat teman yang bisa dipercaya disini satu kunci nya adalah percaya pada diri sendiri karna diri sendiri tidak akan membuat mu kecewa kecuali membuat diri mu sendiri kecewa.

Tanggal 30 Agustus hari dimana aku keluar dari rumah Host mom, pada saat siang hari. Atmosphere yang tidak nyaman pun mulai terasa. Host mom ku ini entah kenapa pada saat hari di mana aku akan pergi dia mencari-cari kesalahan ku sehingga dia mempunyai alasan untuk memarahi ku. Jujur saja tidak nyaman seperti ini. Pada pagi hari sebelum aku pergi aku menitip kan barang-barang ku di teman Aupair yang berasal dari Ukraine. Dia teman baik ku di Hannover kami saling kenal karna kami satu tempat kursus. Aku selalu berbagi cerita dengan nya sedih senang tentang pengalaman kami menjadi Aupair di Germany. Dia juga punya impian yang sama dengan ku untuk bisa study kembali disini. Tidak di pungkri banyak orang yang rela datang ke Germany untuk study karna negara ini menjadi negara favorit untuk study.

Di sore hari aku kembali ke rumah keluarga angkat ku dan segera berpamitan dengan nya. Aku tau perasaan yang tidak enak dan takut juga menghampiri ku tapi di satu sisi aku senang karna masa Aupair telah selesai. Pada hari yang sama aku juga berpamitan dengan teman ku Katja(Aupair Ukraine) Katja merasa sedih karna aku harus pergi tetapi dia senang karna aku bisa keluar dari keluarga angkat ku. Dia berharap kita dapat sering bertemu walaupun berbeda kota. Pada awal bulan september aku memulai volunteer program di Kindergarten setelah selesai dengan Program Aupair berharap ini peluang baik untuk ku karna selain bisa belajar direct mengenai anak-anak, kultur juga bahasa, aku juga belajar mengenai bagaimana cara berinteraksi dengan orang-orang jerman di sekitar tempat kerja ku dan aku senang bisa mendapatkan pengalaman international di akhir program ini, berharap dapat menjalankan dengan baik dan belajar mengenai banyak hal.

Terhitung satu bulan mulai dari sekarang aku sudah menjalani volunteer program di Kindergarten Perasaan campur aduk tapi senang karna berjalan baik semua hanya saja harus mengerti bahasa anak dan membaca body language anak. Di Kindergarten aku membantu para Erziherin dengan jumlah 8 anak. Anak-anak yang berada di Gruppe ku berasal dari berbeda negara dan mereka mempunyai problem dengan bahasa jerman, mereka juga harus belajar sekaligus 2 bahasa yaitu muttersprache mereka dan deutsch sprache di Kindergarten, aku mengakui ini agak cukup sulit untuk mereka sehingga setiap hari harus melakukan sparchtherapy selama 30 menit untuk setiap anak. Anak-anak ini cukup unik bagi ku karna mereka tidak saja membawa kultur berbeda tetapi kami mempelajari dan menghargai satu sama lain. Aku senang dapat berkerja pada atmosphere yang baik dan support satu sama lain dalam satu team dengan para Erzieherin. Aku berharap setelah program ini selesai dapat merencanakan study kembali atau melakukan Ausbildung dan semoga saja dapat berjalan dengan baik di masa depan nantinya.

Ini kisah ku sedikit yang ingin di share kepada kalian yang ingin melakukan sesuatu di luar zona nyaman kalian untuk melakukan tantangan dalam hidup dan pengalaman untuk hidup di negara Eropa.

Created by Ichi
Share:

Dienstag, 9. Oktober 2018

Pengalamanku Menjadi Au Pair



Sebelumnya aku tidak pernah ada rencana untuk menjadi seorang Au-Pair. Bahkan aku tidak tahu sama sekali apa itu program Au-Pair. Jadi awal mulanya aku mengajukan Visa Studienvorbereitung di Kedutaan Jerman di Jakarta, namun hingga 8 bulan lamanya aku tidak dapat kabar terbaru dari kedutaan dan setiap kali aku pertanyakan tetang Visaku mereka hanya menjawab masih dalam proses. Sampai pada akhirnya datanglah surat penolakan yang mengatakan bahwa Motivation Letterku kurang menunjukkan tujuanku, dan hal itu sempat membuat aku down. Aku bercerita ke salah satu temanku yang sudah berada di Jerman. Dan akhirnya dari dialah aku mendengar program Au-Pair. Dari situ aku mulai mencari di Internet tentang program Au-Pair, membaca pengalaman-pengalaman serta berbagai blog yang ada. Setelah aku mendapat gambaran yang jelas mengenai Au-Pair, maka aku putuskan untuk menjalani program tersebut.

Sedikit gambaran mengenai program Au-Pair. Berdasarkan pengalamanku adalah sebuah program pertukaran budaya dimana seorang Au-Pair belajar bahasa dan budaya dari negara dimana kita menjalani program tersebut dan dapat tinggal di rumah salah satu keluarga, sebagai gantinya kita membantu keluarga tersebut dalam menjalani aktivitas mereka. Seperti menjaga anak-anak mereka, membereskan atau merapikan kamar dan tempat bermain anak-anak, dan tentunya sebagai seseorang yang ikut tinggal di dalam keluarga tersebut wajib ikut menjaga kebersihan rumah tersebut. Karena dari situ anak-anak mereka juga bisa belajar sebuah tanggung jawab. Dan tentunya kita juga mendapat uang saku perbulannya.

Singkat cerita, setelah aku mengetahui apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Au-Pair di Jerman. Mulailah aku mencari keluarga, pada awalnya aku menemukan sebuah keluarga di Berlin namun seiring waktu ada beberapa hal dari calon Gastfamilie ku yang membuat mereka membatalkan niat mereka memiliki seorang Au-Pair. Akhirnya aku mencari keluarga Au-Pair baru dan aku menemukannya melalui Grup Au-Pair di Facebook. Mereka adalah sebuah keluarga muda dengan 3 anak di Lüneburg.

Akhirnya aku mengajukan permohonan Visa Au-Pair setelah semua dokument dari Gastfamilieku datang dan dokument lain juga sudah terpenuhi. Setelah menunggu sekitar 1 bulan lamanya, aku mendapat kabar bahwa Visaku sudah jadi. Dan tepat pada 7 Maret 2017 aku terbang ke Jerman. Yang bisa aku katakan pada diriku sendiri adalah akhirnya aku memulai awal karirku di Jerman. Dan yang aku ingin katakan pada kalian yang membaca tulisan ini adalah studi atau bekerja di sebuah perusahaan di Jerman bukanlah satu-satunya cara memulai karir di Jerman, tetapi Au-Pair merupakan salah satu pilihan memulai karir di Jerman. Karena dari Au-Pair bisa aku katakan membantu meminimalisir Culture Shock.

Jadi singkat cerita lagi, hari pertama bertemu mereka aku sangat senang dan merasa sangat disambut dengan keluarga mereka. Setelah 2 hari berlau mulailah Gastmutter ku menjelaskan apa saja yang bisa aku bantu sehari-hari di rumah tersebut. Namun semakin lama ada beberapa hal yang aku rasa seharusnya tidak menjadi bagian dari tugasku. Aku sempat bertanya kepada beberapa teman-teman Au-Pair lainnya, beberapa dari mereka mengatakan bahwa apa yang dilakukan Gastfamilieku melebihi batas kontrak kerja tapi ada beberapa dari mereka yang mengatakan bahwa aku hanya Culture Shock. Beruntungnya aku mempunyai seorang pacar di Jerman yang bisa membantu menengahi masalah ini, dia juga yang berusaha menjelaskan dan menanyakan kepada Gastmutterku. Dan beruntungnya juga Gastfamilieku orang yang mau mendengar kritik dan mereka tetap tidak berubah memperlakukan aku seperti bagian dari keluarga. Menurutku Gastmutterku sudah seperti kakak buatku dan sampai sekarang setelah kontrak Au-Pairku selesai aku masih berhubungan baik bahkan kita saling bercerita dari tentang anak-anak hingga masalah pribadi.

Itulah singkat cerita tentang pengalamanku menjadi seorang au pair, aku juga mau berbagi beberap tips berdasarkan pengalamanku :

  1. Baca sebanyak-banyaknya mengenai Au-Pair, cari tahu dari berbagai blog dan juga melalui grup AFA (Au-pair, FSJ, Ausbildung),
  2. Jangan terburu-buru mengambil keputusan,
  3. Baca dan pahami kontrak kerja, jika belum begitu paham bahasa Jerman bisa tanya kepada guru kursus kalian atau orang yang kalian kenal yang bisa berbahasa Jerman,
  4. Saat video call atau Skype dengan calon Gastfamilie jangan lupa untuk menanyakan sejelas-jelasnya apa yang menjadi tanggung jawab & hak kalian selama menjadi Au-Pair di keluarga tersebut,
  5. Siapkan mental dan tekad yang kuat, karena itulah yang bisa membuat kamu bertahan. Karena menjadi Au-Pair bukan hanya bersenang-senang,
  6. Jika ada masalah dalam keluarga berusaha dibicarakan, aku tahu sulit untuk memulai karena kita takut untuk di putus kontrak secara sepihak. Tapi lebih baik dibicarakan karena Gastfamilie kita juga tidak tahu dan merasa baik-baik saja jika kita tidak bilang. Kalau tidak berani melakukan sendiri, berusaha cari seseorang untuk menengahi misal ; teman atau kenalan kalian.


Oh ya semua yang aku tulis disini berdasarkan pengalamanku menjadi Au-pair, jadi tidak bisa disamakan dengan pengalaman orang lain. Semoga dari pengalamanku ini bisa membantu kalian yang akan atau sedang menjalani Au-Pair.

Penulis: Januarty Eka Pratiwi
Editor: Girindra W.P Denker
Share:

Sonntag, 7. Oktober 2018

Ein Jahr, das Dein ganzes Leben verändern kann

,,Es sind die Begegnungen mit Menschen, die das Leben lebenswert machen.“
Guy de Maupassant

Hamburg, 2.10.2018

Das Leben ist voller Überraschungen. Ich kann es bis heute kaum fassen, dass mein Traum, nach Deutschland zu kommen, in Erfüllung gegangen ist. Ein Jahr als ein Au-pair Mädchen ging sehr schnell vorbei und ich musste ein weiteres Programm finden, weil ich noch länger in Deutschland bleiben möchte, um meine Deutschkenntnisse zu verbessern.

Ich habe von einem Blog eines ehemaligen Au-pairs erfahren (www.denkspa.de/), dass wir Ausländer ein Aufenthalt in Deutschland als Freiwilliger – oder Bundesfreiwilliger Soziales Jahr leisten dürfen. Bei dem Programm handelt es sich um eine Sozial- bzw. Freiwilligenarbeit, die man mindestens für 6 bis zu 18 Monaten machen kann. Das Freiwillig Soziales Jahr (FSJ) wird in verschiedenen Einsatzstellen angeboten, wie im gesundheitlichen Bereich sowie in Krankenhäusern oder Einrichtungen für Menschen mit Behinderung, Kunst, Bildung sowie in Kindergärten oder Grundschulen und sogar im ökologischen Bereich.

Die Teilnehmer sind meistens die jungen Menschen, die sich noch überlegen, was sie nach der Schule machen wollen. Das Programm ist als ein Überbrückungsjahr gedacht, damit die Jugendlichen sich orientieren können und einen Blick bekommen, welche Herausforderungen sie im echten Berufsleben erwarten. Außerdem kann man sich durch dieses Programm sozial engagieren und es bringt auf jeden Fall viele Vorteile mit sich.

Ich habe mich entschieden, mein FSJ in einer Wohngruppe bei Leben mit Behinderung Hamburg zu machen. Am Anfang war ich zu skeptisch, als dass ich die ganze Verantwortungen übernehmen könnte. Aber ein Jahr verging und ich bin ein ganz anderer Mensch geworden. Meine Aufgaben an sich sind ziemlich vielfältig. Von den haushälterischen Tätigkeit bis zur Begleitung bei ärztlichen Terminen. Es wird oft verlangt, selbständig und fleißig zu arbeiten. Da es auch um andere Menschen geht, die unsere Hilfe benötigen. Egal in welchen Situation, muss man immer hilfsbereit sein.

Es gibt zwar Tage, wo ich mich sehr selbstbewusst fühle. Aber es gibt auch Tage, wo sich alles sehr überfordert anfühlt. Es ist trotzdem ganz normal. Mit Menschen zu arbeiten ist keine einfache Arbeit aber solange man mit Freude und dem ganzen Herzen arbeitet, geht alles einfacher. Von meinem FSJ habe ich viel gelernt und mitgenommen, dass Menschen miteinander stärker sind. Wir sind von Natur aus ein Homosapiens, der ohne mithilfe anderer Menschen nicht leben kann. Und durch eine gemeinsame Arbeit sind wir unzerbrechlich.

Auf der Arbeit habe ich Menschen mit verschiedenen Eigenschaften und Behinderungen gesehen. Und ich bin froh, dass ich sie kennenlernen dürfte. Es ist nicht immer leicht, mit ihnen zurechtzukommen oder damit umzugehen. Sie sind jedoch einzigartig und sie schenken uns auf ihre Art und Weise große Liebe, die wir manchmal nicht sofort bemerken.

Dank dieser Erfahrung sehe ich sie nicht mehr als Menschen mit Behinderungen, sondern als normale Menschen und nicht deren leiden. Ich sehe nur Hasi, Oliver, Cristian, oder Bärbel. Sie sind genauso wie wir. Sie weinen, sie lachen, sie tanzen und sie lieben. Das ist eine wertvolle Erfahrung, die man nirgendwo kaufen kann. Wie ein Spruch aus Indonesien ,,Tak kenal maka tak sayang“. Mann kann erst dann jemanden lieben, wenn man ihn schon kennengelernt hat. Denn jemand fremdes kann man nur vom außeren beurteilen aber wie Tief das Herz einer Person ist, kann man nur im Laufe der Zeit erfahren.

Das FSJ hat nicht nur mein ganzes Jahr verändert sondern auch mein ganzes Leben. Ich bin nicht mehr in einer Welt wo ich nur schwarz und weiß gesehen habe. Mein Leben ist tatsächlich viel Bunter geworden. Es ist die Funktion einer Inklusion, dass man letztendlich kein Vergleich mehr macht und die Vielfalt in der Gesellschaft respektiert. Das wäre ein Anfang, die ganze Welt zu einem besseren Ort für jeden Menschen machen zu können. Egal welche Farbe, Nationalität und Behinderung man hat oder welche Sprache man spricht. Respekt sollte meiner Meinung nach eine Eigenschaft sein, die man überall und jederzeit haben muss. Und ich bin froh, dass ich ein Jahr für was positives verbracht habe.

Autorin  : Lita Asmara
Bearbeiterin: Girindra W.P Denker

Share:
Powered by Blogger.

Recent

Breaking

Categories

Pages

Theme Support